Seperti hari sebelumnya,
aku tak pernah bisa benar-benar mencintai siang.
Tak pernah bisa membuatku tenang.
Hampir selalu gamang.
Siang menawarkan terlalu banyak pilihan.
Menyudahi drama Tuhan,
atau melanjutkan peran.
Serupa simalakama, membingungkan.
Siang juga kerap menamatkan mimpiku yang masih menggantung.
Membangunkanku dengan paksa dari tidur panjang mencari Yang Agung.
Padahal,
jarakku sempat hanya segaris meja makan dengan Si Peramu Menu.
Matahari menghadang memburu.
Kaki ini beku.
Sinar pongahnya memaksaku mundur,
tersungkur.
Membungkus kembali tanya yang menahun terkubur.
Untuk kesekian kalinya aku gugur
Urung kutanya "Aku mencintai malam,
bisakah kuhindari kepura-puraan siang yang mencekam,
kelam?"
Kutarik selimut, matahari bungkam.
-------------------------------------------------------------
Depok, 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar