Kamis, 23 September 2010

Hari # 10: Darah Muda


Dara, 10 tahun, mengamuk setelah seminggu tak mau bicara. Anak itu berteriak nyalang melihat adegan seorang pria merayu lawan mainnya dalam layer kaca. “Bapak jahat! Bapak jahat!” repetisi kata yang membingungkan Sri, ibunya. Entah butuh berapa jam lamanya, Sri akhirnya berhasil menenangkan anak semata wayangnya. Dara berkeringat luar biasa. Sri mengganti bajunya dan mendapati celana dalam anaknya bercorak merah darah. Suaminya sudah seminggu tak pulang dengan alasan ke ibu kota mencari nafkah.

Rabu, 22 September 2010

Gadis Desa


Dari balik punggung yang menunduk. Di sela air mata yang tak pernah reda sejak hari itu kudengar ibu terbata-bata mencari kata penjaga di antara tentetan kata milik pemuka desa dalam lakon hakim ternama “Kau harus keluarkan Gadis dari desa cepat-cepat!” seru orang terdepan diikuti suara-suara kepala-kepala yang berjejal di belakangnya, mengiyakan. 

“Bukankah seharusnya anakmu yang dikebiri? Toh, tak akan pernah ada kembang biak tanpa jasa penabur benih.”

Selasa, 21 September 2010

Dialog Senja 2


Tuhan

“Kemana saja kau?”
“Berkelana”
“Apa yang kau cari?”
“Dia”
“Bodoh! Dia ada di dalam sana.”
“Dimana?”
“Cermin.”

-------------------------------------------------

Kelamin

“Apa itu kelamin?”
“Sesuatu yang licik.”
“Selicik apa?”
“Ia selalu punya celah untuk mendominasi”
“Apa?”
“Mendominasi norma.”

----------------------------------------------------

Surga

“Amin.”
“Kau berdoa?”
“Bersyukur.”
“Atas apa?”
“Aku masih bisa cium tangan ibu.”
“Kaki?”
“Itu bukan urusanku.”

----------------------------------------------------

Abu

“Ada yang marah.”
“Siapa?”
“Ibu, kucuri gincunya.”
“Buat apa?”
“Aku hanya ingin sedikit berwarna. Salah?”

----------------------------------------------------
[AG, Depok, September 2010] 
*Dialog Senja #1

Senin, 20 September 2010

Dialog Senja


Atas Nama Tuhan

“Apa yang kau imani?”
“Kesendirian.”
“Kau benci manusia?”
“Tidak.”
“Lalu? “
“Aku terlahir dan akan mati sendiri.”

—————————————

Atas Nama Cinta

“Aku cinta.”
“Aku muak.”
“Muak apa?”
“Cinta!”
“Sejak kapan kau mati rasa?”
“Sejak kapan matamu membeku?”

—————————————

Atas Nama Ibu

“Kau sakit jiwa!”
“Mungkin.”
“Cuci otakmu”
“Deterjen?”
“Ibumu.”
“Cuci mulutmu!”

----------------------------
Depok, 2010

Minggu, 19 September 2010

Di Bus Kota Hari Ini


kutemui Luka menganga
di antara dudukan besi,
berkarat
bilakah Kota mulai sekarat?

kutemui penjaja Hari
dalam celah-celah gerah
kekasih Kota di sedan sebelah
hiasan di kepala, pongah

kutemui aneka wajah
aneka jalan
aneka tujuan
aneka surga, rupa-rupa
satu neraka

-----------------------------------
Jakarta, 2010

Sabtu, 18 September 2010

Aku Hanya Ingin


mengecup tangan ibu,
sebelum lelah menyeka buliran resah
menyoal hari depanku.

Aku hanya ingin
berdansa denganmu, malam ini
tak perlu purnama atau
separuh atau
sabit,
sebelum matahari cemburu.

Aku hanya ingin
rebah beberapa jenak.,
merenggangkan arteri-vena yang
tersumbat,
sempat hampir merapat, sesak.
----------------------------------
Depok, 2010

Jumat, 17 September 2010

Menjelang Subuh


Pukul Dua Dini Hari

ada Anak menangis di ujung ranjang
meringkuk
:berhenti bermimpi
buruk, tunduk

-------------------------------------

Pukul Tiga Dini Hari

tivi menyala
bola
bundar
:berkeliaran seperti Bapak

-------------------------------------

Pukul Empat Dini Hari

aku dan Ibu pernah serupa simpul mati
bertautan atas nama iman lalu
tak terjangkau
meninggi, berseberangan

------------------------------------
Depok, 2010


Kamis, 16 September 2010

Jenakanya Tuhan


dari tatapan
ke tatapan
dari pijakan
ke pijakan
semesta merupa dalam isi keimanan

mengimani hari
mengimani sendiri
mengimani nasi
mengimani mimpi
tasbih kehilangan benang: berlari menari sedu sedan menggendangi

ini perut
ini dahaga
doa-doa surut
iman menguap mengudara
di bawahnya: kepala-kepala tertunduk menangisi raga-jiwa

pekat sudah
biru sudah
berserakan merah-merah
ini jengah!
-------------------------------------------

Depok, 2010