Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 November 2010

Buat Apa Menghujat Matahari?


Selamat malam, Biru. Kepala ini
lebam isinya. Apa kau tahu sebab
semesta muram? Siapa
sedang berusaha memakamkannya,
perlahan?

Ia tak pernah cemburu. Tidak ada
pamrih. Tiada mengeluh. Terima
kasih, peluh.

O, aku lupa. Pun Ia tak
ada pernah berniat
sombong. Bukan Ia si pembuat hati
berongga, sombong. Si penguap barisan
kata yang tertunda ucap, pun bukan Matahari.
Mungkin lainnya, mentari.

Mentari kerap pergi,
diam-diam. Beranjak. Matahari bergerak.
Tak pernah benar-benar berjarak.
Ia, yang setia, mengamini
bait-bait para pendoa.

Hari masih separuh saat gelap
bergulir. Lusinan doa terapal,
cepat-cepat. Mengiringi Matahari,
lambat-lambat.

Tak akan ada Ia lagi
setelahnya.


Depok, 2010

Jumat, 15 Oktober 2010

Buku Pertama: Kejutan!


Ini berkah, saya sumringah.
Maaf jika mengganggu waktu kalian, semoga tak jengah :)

Saya ingin berbagi kabar bahagia. Setidaknya ini membahagiakan saya. Semoga juga bisa membahagiakan teman-teman semua. Begini, saya ini gemar menulis. Apapun, jika sempat, pasti saya tulis. Nah, kegemaran saya ini menjadi hal yang sulit dihentikan. Banyak kata tercecer di tempat sembarang. Seperti hidup yang memiliki arsip bernama kenangan, pun saya ingin memiliki arsip dari lembaran-lembaran yang pernah saya tuliskan. Beruntung ada kesempatan dari nulisbuku.com dan Mizan Digital untuk membuat racauan saya terbaca oleh banyak mata. Ini, buku pertama saya:


Judul                 : Kejutan
Jenis                 : Kumpulan Prosa
Penulis              : Andi Gunawan
Editor               : Andi Gunawan
Sampul             : Pungky Prayitno
Halaman           : 68 Halaman
Penerbit            : Opera Aksara (melalui nulisbuku.com)
Harga               : Rp 30.000,-

Aku masih bersyukur sembari menunggu Lima terpukul. Bersyukur dalam gaung paling merdu yang serta-merta Kau hentikan dengan getaran telepon genggam. Anak bungsu ibuku dalam jaringan “Mas, ibu sakit. Cepat pulang.” Kenapa kau gemar sekali memberi kejutan, Gusti?

Selasa, 05 Oktober 2010

Menghunjam


Ada yang menghunjam. 
Di kepala. 
Di sekitar dada. 
Merata. 
Ini bukan yang kusebut rindu. 
Hanya saja, namamu enggan pergi dari pikiranku.

Aku hilang. 
Hilang kata. 
Kata kamu. 
Kamu Kata. 
Kata hilang. 
Hilang aku.

Aku menolak menyebut ini rindu. 
Mantap tanpa gelagap. 
Sesuatu ini menghujam sampai paru. 
Sepertinya aku sedang meratap.

Depok, 2010

Sabtu, 25 September 2010

Akrostik: Salah


:Putri Sakinah

Seumpama manusia serupa kata, diksi adalah tingkahnya, rupa-rupa, sembarang tak melulu seirama. Adalah makna yang tak dimiliki kata, ia mencarinya sendiri dalam sejuta ambiguitas duniawi. Lantas, usahlah sendu ketika diksimu tak sejalan mau kerangka aksara. Adalah lumrah, adalah biasa, adalah sudah jangan kau sesali dalam panjang alinea sesudahnya. Habis titik, semailah frase baru pada lembaran kekinianmu, karena lalu adalah guru.

Depok, 2010
-------------------------------------------

*Akrostik adalah puisi atau bentuk tulisan lain dimana huruf, silabus atau kata pertama dari tiap baris atau paragraph mengeja sebuah kata atau pesan, biasanya sama dengan judul.

Selasa, 14 September 2010

Meminang Malam

 
Seperti hari sebelumnya, 
aku tak pernah bisa benar-benar mencintai siang.
Tak pernah bisa membuatku tenang.
Hampir selalu gamang.

Siang menawarkan terlalu banyak pilihan.
Menyudahi drama Tuhan,
atau melanjutkan peran.
Serupa simalakama, membingungkan.

Siang juga kerap menamatkan mimpiku yang masih menggantung.
Membangunkanku dengan paksa dari tidur panjang mencari Yang Agung.

Padahal, 
jarakku sempat hanya segaris meja makan dengan Si Peramu Menu.
Matahari menghadang memburu.
Kaki ini beku.

Sinar pongahnya memaksaku mundur,
tersungkur.
Membungkus kembali tanya yang menahun terkubur.
Untuk kesekian kalinya aku gugur

Urung kutanya "Aku mencintai malam,
bisakah kuhindari kepura-puraan siang yang mencekam,
kelam?"
Kutarik selimut, matahari bungkam.
-------------------------------------------------------------

Depok, 2010

Senin, 13 September 2010

Rindu Ibu


1
Ada ibu merindu anak-anaknya.
Tiga dari lima.
Sudah berkali-kali lebaran tak kunjung temu tiga.
Tersisa dua.

2
Si sulung lelaki seperti hilang, tak ada kabar tersiar.
Ikut istri ke Riau dan beranak kembar.
Si ibu berharap kapal pesiar.

3
Si ibu gemar pindah alamat sejak si sulung pindah pulau.
Rantai kabar terputus tak lagi terjangkau.
Ibu jadi hobi mengigau.

4
Setelah menahun, si ibu pura-pura mengikhlaskan si sulung pada alam.
Padahal, ia selalu berharap ada yang mengetuk pintu tiap malam.

5
Si dua adalah perempun pertama.
Polahnya tak terkendali tangan ibu yang sibuk melawan ibu kota.
Salah taruh percaya.

6
Tut Wuri Handayani, terpanggil Tuti.
Tuti, si dua, merasa nyaman dengan pemuda pinggir kali.
Beranak satu perempuan empat lelaki.

7
Dengan klisenya, Tuti ditinggal pergi suami.
Sejuta alasan pasti tak pasti, pada ibu Tuti kembali.
Maaf selalu ada untuk si buah hati.

8
Tuti mulai kerepotan mengumpulkan rupiah untuk sekadar beli susu kemasan.
Ia pikir mencari akan dolar lebih ringan.

9
Tuti dan ibu berbagi kesepakatan.
Tuti memilih negeri singa, si ibu memilih jadi nenek bercucu beruban.
Mereka dipisah lautan.

10
Sekarang, si ibu resmi kerepotan dan Tuti resmi dirindukan.
Cucu-cucu kehilangan masa kecil idaman.
Tak pernah bermain di taman.

11
Satu lagi yang sedang dirindu ibu.
Anak ketiga, si perempuan ayu.
Seayu putrinya, cucu terakhir ibu.
Sudah lama tak saling temu.

12
Suami si tiga tak pernah beri jalan ke rumah ibu.
Serupa monopoli, ia melarang tak pernah ragu.
Ibu yakin jiwa menantunya terganggu.

13
Dulu ibu menentang mereka.
Mereka disatukan janin sebelum ijab kabul terlaksana.
Sukses memisah ibu dan anak ketiga.
Menantu durhaka.

14
Pagi tadi,
si ibu menyebut nama tiga anak pertamanya
di sela peluk tangis si empat dan si bungsu.
Lebaran semacam panggung tanpa lagu.

15
Ada ibu bertanya pada anak-anaknya
:apa Gusti benar maha segala?
Si bungsu menepis air mata.
Si empat, aku, kehilangan kata. 

--------------------------------------------------
Depok. 1 Syawal 1431 H

Sabtu, 11 September 2010

Sekata Tiga Aksara

Saya sedang merindu dia yang bernama satu kata dan hanya tiga aksara.
Kenangan aneka rasa terikat di kepala.
Lekat./

Saya tahu dia dulu hanya memanfaatkan keanehan saya,
tapi saat itu saya ikhlas dimanfaatkan aneka rupa./

Naik motor usang punyanya,
makan sate malam buta,
pergi berdua ke sinema,
curi-curi dari mereka.
Dia nakal tapi saya suka./

Matanya selalu menggoda.
Saya selalu suka melihatnya berolah raga.
Berkeringat.
Memikat./

Saya ingat bagaimana ciuman pertama kami.
Dia bilang tak sengaja.
“Jangan bilang siapa-siapa” jadi kalimat keduanya. /

Dia tak pernah marah setiap kali saya peluk dari belakang di atas motor bapaknya.
Sayangnya tak berlangsung lama./

Dia gemar memamerkan bentuk perutnya.
Atlet sekolah idaman wanita.
Mereka tak pernah tahu soal kami berdua./

Ciuman kedua jadi yang terakhir, di tangga lantai dua sekolah.
Di lantai satu pacarnya menggigit bibir.
Dia pintar mencari celah./

Setelahnya,
dia berlakon mirip orang asing.
Salah tingkah.
Saya cuma bisa senyum garing.
Berusaha tetap ramah./

Oke!
Sudah menahun tak melihatnya.
Entah kena apa di kepala ini hanya ada satu nama tiga aksara.
Errgh! /

Tebal alis di atas matanya.
Kedua bibir penuhnya.
Tahi lalat yang entah dimana.
Saya merindu semuanya, pria pertama./

Teman saya bilang dia hampir mirip Collin Farrel,
aktor Irlandia dengam citra ‘bad boy’.
Yes, He was my bad boy./

Saya tak pernah simpan nomornya di daftar kontak ponsel saya.
Terpaksa menghafal alih-alih menutupi dari sekitar./

Dia menyimpan nomor saya dengan nama ‘Dara’ di ponselnya.
Saya tak pernah minta tapi dia pintar bersandiwara./

Saat hari mulai membosankan,
saya kirim pesan pendek padanya.
Setengah jam kemudian dia sudah menunggu di persimpangan./

Kami gemar keluar setelah gelap,
alih-alih menghindari jarak pandang mereka yang kami kenal./

Dia selalu tanya kabar mantan pacarnya yang adalah teman saya.
Saya selalu jawab sambil bersungut-sungut.
Dia terkekeh manggut-manggut./

Dia suka nonton.
Dia suka kopi.
Saya suka dia dan keduanya.
Masih saya simpan tiket pertama kami.
Mugkin tak bernilai tapi berarti./

Ada yang curiga soal kami,
masa bodoh tak ambil peduli.
Ini soal nyaman bukan aman,
tapi dia mulai keberatan./

Dia punya pacar baru.
Lucu dan ayu.
Saya dikenalkan.
Saya tak keberatan.
Kami tetap pasangan./

Setelah adegan kamar mandi sekolah dia menghilang ke lain kota untuk turnamen kebanggaan.
Kepulangannya tak pernah berkabar./

Dia serupa tertelan gelombang tak bernama.
Hilang.
Dia resmi menjadi kenangan.
Sekarang, saya sedang mengenangnya./

Sempat tak sengaja tatap muk di bis kota dan pusat belanja.
Dia berdua dengan pria entah siapa.
Saya cemburu./

Saya tak pernah cemburu sebelumnya karena pasangannya selalu wanita.
Kali itu saya kecewa./

Dulu, saya menyebutnya ‘gay on the closet’.
Mungkin sekarang dia lebih terbuka cari nyaman, atau entah apa.
Saya sempat marah./

Terakhir bicara,
dia sudah menikah karena ada anak gadis diperawaninya.
Saya lega.
Dia tak berakhir pada pria./

Saya senang mengenang bahunya pernah jadi tempat ternyaman untuk menguapkan lelah.
Menguapkan pura-pura./

Saat itu,
hanya kepadanya saya bisa berhenti pura-pura.
Dia tak terlalu perhatian,
tapi berusaha mengerti./

Dia hanya bernama satu kata dengan tiga aksara.
Dia adalah KAU yang tak pernah hilang namanya di kepala ini.//

---------------------------------------------
Depok, 11 Agustus 2010
*dirangkum dari hashtag #sekata3aksara –curhat membabi buta di Twitter saya [@ndigun]

Jumat, 03 September 2010

Cerita Sum

Kemarin sore pelangi terbit, kau lihat? Gugusan warnanya menyempurnakan senja yang hampir beku. Tegar pernah berkalimat, “Akan ada pelangi setelah badai.” Jika kau meyakini eksistensi pelangi, kau bisa setegar Tegar. Aku tahu badaimu masih kencang menggelombang. Badaimu adalah badaiku dulu. Bukan karena aku kalah lantas kau yang harus menerjangnya. Ini soal bumi dan isinya dan pergerakannya. Aku rasa kita tak pernah tahu kita akan diputar kemana. Kemanapun badai membawamu, aku akan ada di garis terdepan. Menguatkanmu saat peganganmu mengendur.

Sore itu Sum menghantarkan segenggam maaf padaku. Maaf karena mematahkan mimpiku. Bukan hanya satu mimpiku. Nyaris semua, katanya. Aku mengembalikan kata. Bukan ia si pematah mimpi. Tak ada yang patah bahkan. Mimpiku adalah membuatnya kembali bermimpi. Mimpiku tak terpatahkan. Suatu hari nanti kita akan terduduk menikmati sore dengan mimpi di genggaman. Mimpi yang tersempurnakan kelak. Ini janjiku. Bersabarlah sedikit lebih lama.

Namanya Sumiati. Panggil saja ia Sum. Ia sedang belajar kembali menyulam mimpi setelah sebelumnya kehilangan jarum sulamnya. Ia ibuku dan kini jarum itu milikku.

Rabu, 11 Agustus 2010

Perlu Lebih dari 24 Jam Sehari


Sudah 38 jam di luar rumah
mengumpulkan rupiah
sembari sesekali berusaha tertawa renyah
-meski susah. 

Sembilan kali naik angkutan umum ibu kota
kesepuluh nanti untuk kembali ke rumah,
secepatnya segera.

Beruntung bisa curi tiga
dari 38 pukulan untuk rebah
selurusnya.

Bukan soal panjang jarak
:ini soal hari depan seorang anak
mencari ruang di metropolitan semarak
semoga tak lekas muak.

Gusti, sampaikan pada ibu, aku
tak bisa tepati waktu
biarkan aku yang mengejar waktu,
dia tahu maksudku. 

Ada apa sebenarnya dengan Minggu?
yang aku tahu
:ada air mata di sela pengharapan para ibu.

————–
Di luar rumah dan akan segera pulang, 8 Agustus 2010

Selasa, 06 Juli 2010

Kaugemakan Laguku Saat Jendela Terbuka


:Yessa Putra Noviansyah


Hari-hari merupa hitam putih sesekali terselip abu. Umpama tembakau dalam kemasan petang, kunikmati selingan kelabu yang menggelayuti mau sebelum datang merah.

Kau mengetuk pintu dan kubiarkan masuk lewat jendela. Pintu terlalu lapang saat terbuka -mengaburkan asap yang ingin kujaga baunya dalam kubusku.

Demi kelayakan predikat, kubagi sesesap jujur padamu yang masuk lewat jendela berkarat. Kepulannya merasuki celah yang rahasia, kenapa kau buka pintu?























[ndigun, Depok 06 Juli 2010]
*ilustrasi diunduh dari sini

Selasa, 15 Juni 2010

Pesan Pendek Milik Tuan yang Tersimpan dalam Kotak

Dari: Raja

Hujan menghalangiku menemuimu. Akupun semakin merindu. Ada kalanya aku bosan denganmu, tapi tidak kali ini. Aku ingin mencumbumu, mesra.


Kepada: Raja

Aku baru saja berterima kasih pada hujan. Bulir airnya mengingatkanku padamu. Bahwa kau tak bersenyawa denganku. Kuberitahu, aku memerlukan lebih dari sekedar cumbuan. Hati-hati di jalanmu. Akupun akan begitu.

———————
*ditulis setelah mendengar lagu Separated milik Usher
Tuan A -sendiri di ruang persegi mengingat Raja

Kamis, 03 Juni 2010

Ganjil

Ibu, masih ingat dulu aku merengek minta diajak ke layar lebar? Ada film yang teman-temanku ramai gunjingkan. Ibu mengiyakan pintaku dan aku sumringah berkepanjangan. Senangnya bukan kepalang. Setelahnya, aku merengek minta dibelikan kaset yang berisi lagu-lagu dalam film itu. Ibu mengiyakan. Aku senang bukan kepalang. Kita putar kasetnya saat hampir petang, bapak belum pulang mungkin sedang menyambangi si jalang. Tenang, berdua saja denganmu aku sudah senang. Senang bukan kepalang. Senang berkepanjangan.

Satu lagu itu aku pinta ibu putar berulang. “Lagi ibu, lagu itu lagi!”. Ibu mengiyakan, setia menemaniku mendengarkan berulang-ulang. Kita tak hanya mendengar. Kita berandai-andai berkepanjangan. Andai aku besar nanti. Andai aku besar nanti*. Andai aku besar nanti. Ibu setia mengamini andai-andaiku yang panjang. Mengandai berulang-ulang. Aku senang bukan kepalang. 

Maaf, ibu. Aku belum sempat menggenapi andaianku padamu di sebesar ini. Bukan, bukan karena aku terlalu dimanjakan bapak yang berlaga bak penguasa kerajaan. Bukan karena aku sibuk gonta-ganti pasangan. Bukan karena aku mengandai setinggi-tinggi awan. Bukan karena saudara-saudaraku lebih membanggakan. Aku tahu ibu sering menangis meringkuk di ujung ranjang. Bukan karena kedinginan. Lantaran para pendahuluku bermain terlalu jauh dari simpangan. Boleh kuberi mereka satu-dua tamparan? 

Maaf, ibu. Aku sempat membuatmu merasa bersalah berkepanjangan karena belum sempat menggenapi andaianku sendiri di sebesar ini. Membuatmu kerap mengantarkan maaf yang tak perlu. Harusnya aku tahu ibu tak pernah merengek menyoal kapan andai-andai itu jadi benar-benar. 

Maaf, ibu. Aku sudah berada lebih jauh simpangan daripada para pendahuluku yang ingin kutampar dulu. Kalau ibu mau beri aku tamparan, aku tak akan mengelak barang segerakan. Nyatanya aku tak seistimewa yang ibu andaikan.



*Judul salah satu lagu yang gemar kuputar berulang-ulang milik Sherina.
————————————————————————-
A –anak lelaki Sum

Kamis, 13 Mei 2010

Senja Di Sadranan


Pasir-pasir bergulir digerak gelombang getir, di atasnya: senja mengalir hingga ujung pesisir menertawakan kami, yang korban ibukota satir, yang korban pejabat berdasi kikir, yang korban asmara dalam pandir, yang korban dongeng raja-raja demokrasi mangkir



Ombak mengalun bening ke permukaan, di bawahnya: karang-karang membatu menghakimi kami, yang lari sejenak dari intrik realita, yang memaku mimpi tanpa daya, yang menyanyikan lagu kematian bagi semesta, yang lupa jalan pulang ke induknya



Gugusan awan bergerak berarak-arak, di antaranya: matahari menerbitkan jingga menghangatkan kami, yang rindu mantra-mantra pemanggil hujan, yang segan mengucap terima kasih tuhan, yang naïf tak peduli jalan pada tujuan, yang menerka kelewat jauh hari depan


--------------------------------------------
Untuk kalian, Gitaditya Witono - FIKRI - Wibisono Tegar - Olga Elisa Utomor : terima kasih akhir pekannya

[AG] di ibukota satir, 06 Mei 2010